takut ya?
Tulisan ini saya posting dari rumah…jadi saya kagak nganggu kerjaan di kantor hehehehe, tapi sama saja, lha nulisnya ini di kantor kok huahahahahahahahaha. Tulisan saya ini mengambil dari beberapa referensi dari beberapa artikel.
Perubahan bukan lagi merupakan sebuah kebutuhan ataupun pilihan, melainkan sudah menjadi keharusan. Tanpa perubahan tak ada daya juang untuk terus hidup. Disadari atau tidak, diterima atau tidak, siap atau tidak, perubahan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keseharian kita.
Dalam dunia kerja atau di suatu perusahaan, dengan semakin banyaknya pesaing masuk ke arena bisnis perusahaan kita, semakin berkompetisinya tenaga kerja apakah merupakan tantangan, cambuk bagi kita atau bahkan sebaliknya akan membuat kita terpuruk. Semua ini kembali kepada kita sebagai anggota organisasi / perusahaan itu sendiri.
banyak karyawan di lingkungan kerja suatu ‘perubahan’ sudah jadi momok yang menakutkan dan harus dihindari, misal takut kehilangan posisi, pamor, merasa tersaingi dengan kedatangan warga baru di organisasi atau ganti pemegang saham, dan yang lainnya karena adannya sistem baru.
Apalagi untuk suatu perusahaan yang baru akan berjalan dengan beberapa kali terjadi pergantian pemegang saham atau pemilik, lebih sulit lagi apa bila di perusahaan yang masih “ngalor ngidul” belum tau mau kemana, masih menunggu dan menunggu hehehehe seperti dimana hayo…? Selalu ada saja orang yang suka menangguk ikan di air yang keruh, dia mengambil keuntungan dari keadaan yang “membingungkan ini” untuk kepehtingan diri sendiri, bahkan acap kali, tidak segan-segan melakukan maneuver dan manipulasi cerita atau keadaan terhadap orang-orang (baik itu temen maupun bawahan) yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa, menyalahkan orang lain, atau untuk mencari keselamatan diri demi perubahan tersebut, dengan mengorbankan orang lain (termasuk teman sendiri kali ya….huehehehehehehehehe)
Ketidakmampuan kita menerima perubahan membuat ketakutan dan keresahan hati timbul menyelimuti pikiran. Kekhawatiran seperti itu rasanya tidak perlu ada, sepanjang kita dapat menyikapinya dengan positif.
Mengapa orang takut perubahan?
Walaupun perubahan merupakan suatu keharusan, kita sering merasa ragu atau bahkan enggan untuk melakukannya karena suatu alasan, misalnya:
- Rasa Takut…..Alasan yang sering kita ungkapkan adalah rasa takut. Rasa ini muncul karena kita tidak tahu pasti apa yang menanti di depan kita. Banyak dari kita yang beranggapan bahwa melakukan perubahan itu ibarat melangkah memasuki kegelapan. Bisa jadi, keadaan ini digunakan untuk melakukan maneuver untuk kepentingan pribadi…huehehehehehe…
- Resiko…….Risiko merupakan alasan berikut yang sering terdengar. Risiko memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perubahan. Risiko yang mungkin muncul adalah penolakan pimpinan terhadap suatu ide atau pikiran (pola pikir). Resiko yang gagal, misal —penolakan, kegagalan, dan kerugian—memang menyakitkan. Tidak heran jika banyak dari kita yang sudah merasa nyaman dengan kondisi kita, enggan melakukan perubahan, dan perubahan seringkali diikuti dengan kesulitan.
3. Apa lagi ya?….
Menurut para ahli psikologi, rasa takut adalah perasaan negatif yang timbul akibat teridentifikasinya sebuah stimulus (misalnya bahaya, posisi yang tidak nyaman dll). Rasa takut ini seringkali diikuti dengan adanya perubahan fisiologis, kognitif, dan tingkah laku (Kleinknecht, 1986).
Merasa tidak nyaman dan takut mengambil resiko yang akan terjadi, merupakan alasan mengapa kita sulit untuk berubah. Perasaan takut gagal, takut kelemahan diketahui oleh orang lain, takut diremehkan atau ditertawakan, serta takut-takut lainnya adalah membuat kita semakin sukar untuk menghadapi perubahan.
Apakah kita ingin seperti orang-orang jenis ini yang sangat pandai membuat alasan serta pembenaran terhadap tindakannya. Padahal yang dilakukan hanyalah bersembunyi terhadap perubahan yang sedang terjadi dan tanpa mereka sadari, dunia lambat laun akan mengubah mereka secara paksa.
RESISTENSI DAN PERUBAHAN
hukum newton menyatakan bahwa setiap aksi akan berpasangan dengan reaksi, oleh karenanya gaya dorong terhadap perubahan akan berpasangan dengan gaya resisten terhadap perubahan. Resistensi akan memperlambat atau bahkan menghentikan laju perubahan dalam satuan waktu. Tapi percaya atau tidak resister (orang, kelompok atau apa saja yang dianggap penghambat) berdasarkan perspektif mereka akan berpandangan bahwa apa yang mereka lakukan tidak bermaksud menghambat, melainkan bentuk survival belaka, mempertahankan keberadaan diri atau kelompoknya. Paling tidak ada tiga tingkatan resistensi:
(1) resistensi berdasarkan informasi. Pada level ini yang bermain adalah argumen, fakta atau figur. Penolakan terjadi berdasarkan pemikiran, rasio, pertimbangan-pertimbangan yang berdasarkan nalar. Pada tahapan ini penyampaian informasi secara penuh, jelas, persuasif dan argumentatif dapat mengurangi kemungkingan resistensi. Sebaliknya miskomunikasi dan disinformasi akan memperbesar gaya resistensi.
(2) Reaksi psikologis dan emosional terhadap perubahan. Dalam tahap ini reaksi terhadap perubahan hanya berdasarkan insting atau intuisi dasar mahluk hidup untuk bertahan hidup, melindungi diri dari bahaya luar. Orang-orang takut dan resisten terhadap perubahan karena mereka takut kehilangan jabatan, teman, pekerjaan, status, kenyamanan sebelum perubahan. Ide perubahan se-logis apapun tidak akan dicerna. Pada level ini tindakan yang diambil cenderung responsif dan reaktif bahkan sebelum seseorang memiliki kesadaran penuh terhadap apa yang terjadi.
(3) sentimen individu atau kelompok terkait sejarah hubungan lampau. Dalam tahapan ini seseorang atau sekelompok orang resisten dan menolak bukan pada ide. Penolakan terjadi bisa disebabkan pada sejarah buruk yang terjadi dalam hubungan antara pengusung ide perubahan dengan kelompok atau orang di luarnya. Misalnya, saat anda pernah melakukan hal buruk yang tak termaaf oleh saya, maka saya akan cenderung menjadi oposan terhadap apapun yang keluar dari pemikiran anda, ataupun tindakan untuk menyalahkan atau mendiskreditkan orang lain.
Dari beberapa tulisan diatas, dapat disimpulkan bahwa suatu bentuk perubahan hendaknya kita hadapi, bukan untuk kita takuti maupun dihindari, sebaiknya sesuatu yang kita kerjakan untuk menghadapi perubahan tersebut janganlah sampai dan menyalahkan orang lain, apalagi temen sendiri ataupun menyalahkan keadaan saat ini….maksudnya?..entahlah….
Diambil dari – Blog-nya mas maryandi di banten – gsn-soeki, dan – pendapat pribadi